Selasa, 18 Agustus 2009

Kata

Akhir - akhir ini saya lebih suka menulis sajak pendek yang mungkin membingungkan bagi orang - orang yang membacanya. Mungkin mereka bilang saya aneh, karena saya tulis sesuatu yang aneh. Mungkin mereka suka, karena ada beberapa kata yang indah. Sebenarnya yang terjadi pada diri saya ketika saya menulis tulisan itu adalah kecewa, sakit, marah, malu, jengkel, dan banyak emosi lainnya yang jelek. Saya tidak tahu apa maksud kata - kata yang hendak saya tulis, bahkan saya tidak tau benarkah tulisan saya secara bahasa. Tetapi saya tidak akan merubahnya menjadi benar. Karena kata - kata tersebut adalah rekaman emosi saya yang sengaja saya keluarkan. Mari saya tunjukan sesuatu


TANPA TANDA
apa katanya
dia mainkan gitar
semua monyet tepuk tangan
seakan berakal


Tulisan ini menerangkan emosi saya pada seseorang, yang tentu jelek artinya.
Artinya:

apa katanya = dia bilang "apa??"
dia mainkan gitar = lalu dia bicara panjang
semua monyet tepuk tangan = Saya (sebagai orang awam) mengalah
seakan berakal = menuruti katanya

Dan tau kah anda bagai mana rasanya setelah saya menulis 11 kata tadi.
Berhasil, senang, tenang, tentram, damai, santai, dan banyak emosi lainnya yang baik.

Rabu, 12 Agustus 2009

little dog

i can kill a big giant
i can be a star
i can touch the sky
i can do what the president do
and i can kill you too
when i got my anger and my happiness in my hand
cause i have my anger and happiness to bend

thanks for something to write
nice to know you

12 Agustus 2009

Gigi ini katup
Kupingku rancu
Hatiku tertiup
Melambai
Tiba - tiba datang pengguruan
Mengacungkan tangan
Mata merah padam
lalu tolakan pinggang
Kulempar belati
Menancap di dinding tanpa bekas

tanpa tanda

apa katanya
dia mainkan gitar
semua monyet tepuk tangan
seakan berakal

Kamis, 09 Juli 2009

Analogi 05

Tak jauh dari pandangan mata ini ke tebing, aku melihat sekor anjing berwarna coklat, bulunya lebat menutupi matanya. Anjing itu berlari riang ke arah ku. Aku yang saat itu sedang berdiri di tepi pantai terganggu dengan suara gong-gongan anjing itu. Semakin lama semakin dekat, langkahnya cepat namun tidak terlalu cepat, seolah keberatan pada bulu-bulunya. Anjing itu menghampiriku. Jujur ak tidak pernah berani dengan anjing. Dulu pernah satu kali aku dapatkan pengalaman buruk dengan seokor anjing, yang berwarna cokelat juga. Umurku saat itu masih sembilan tahun. Malam hari saat aku naik sepeda, terlihat dua cahaya kecil, yang tidak lain mata anjing. Sepeda ku goes kancang, melewati anjing itu. Tidak lama dia mengejar, akupun mulai panik. Tepat dibawah lampu jalan aku tergelincir dan terlempar ke sisi jalan. Anjing yang tadi mengejar terdiam di dekat sepedaku, dan kulihat warnanya persis dengan anjing yang menghampiriku sekarang.
Ragu-ragu, kudekati anjing itu. Posisinya berdiri kokoh seperti anjing yang kulihat pada malam itu. Seperti orang kecapean nafasnya terdengar ngos-ngosan. Matanya tajam menatap kearah ku. Makin lama makin dekat jarak aku dan anjing itu.
“Apa kamu lihat-lihat?” sepeti orang gila aku ladeni anjing itu. matanya masih saja mengawasi. Tak ada respon sedikitpun dari anjing itu. sepertinya anjing ini baik, dan sanagt terawat. Di lehernya ada bandul bertuliskan Mini, ditulis dengan huruf sambung, sehingga butuh waktu untuk membacanya. Aku mengarahkan tangan ke kepalanya, berniat ingin mengelus. Matanya berubah arah mengawasi tangan ku. Saat aku mengelus kepalanya, ia luluh seperti kucing, padahal anjing ini besarnya dua kali lipat kucing. Suasananya kambali tenang, tegang yang tadinya mengalir sampai tangan hilang seketika. Ku elus kepalanya sambil melihat kearah pantai. Tiba-tiba ia bergerak, aku keget. Dia berjalan pelan kearah dimana ia muncul tadi. Pelan-pelan meninggalkan, agak jauh, dan hilang.
Aku penasaran. Akupun mencari langkanya. Di kanan ku pantai, makin lama makin menanjak. Jauh berjalan, sekarang aku sudah ada diatas tebing yang tadi aku lihat. Hampir sampai di puncaknya, aku lihat anjing itu berdiri di depan rumah, rumah kayu besar yang menghadap ke lautan. Tidak lama ada anak laki menghampiri anjing itu. Aku hanya memperhatikan dari jauh. Kira-kira umurnya masih tujuh tahun. Anak itu melihat kearah ku. Takut terjadi apa-apa, ak mundur sedikit ke pinggir tebing, dan menyisakan ruang sedikit untuk melihat dari kejauhan. Mataku waspada. Terlihat anak itu memanggil seseorang dari dalam rumah. Tidak jelas apa yang dibicarakan, namun ia menunjuk kearah aku berdiri tadi. Dari balik pagar muncul sesosok gadis berambut hitam dikuncir, kakinya jenjang, kulitnya putih, wajahnya pun ayu. Tak lama kemudian mereka masuk kedalam rumah, dibawa serta anjingnya.

Sabtu, 04 Juli 2009

KECIL

Kalau ada ember, air yang akan mengalir hanya air yang kepenuhan. Ember itu harus penuh, baru air didalamnya mengalir keluar.
Terpenuhinya bisa dengan air yang bening, atau air separuh minyak, atau air sirup. Lalu isinya menaglir, tersuling, sampai ahirnya hempas dilautan. Menjadi satu per sekian banyak air asin ditengah sana. Siang hari ia naik ke awan bergerak mengikuti angin. Dan akhirnya jatuh malam malam ketika seorang lemah dipinggir jalan.

Selasa, 30 Juni 2009

Obsessi seni

Bagi saya sekarang hidup ini obsesi.. cita-cita anak TK untuk jadi astronot, impian ibu-ibu untuk punya anak dokter, ibu-ibu yang ingin anaknya kuliah di PTN 'TERKENAL' lalu bekerja di perusahaan yang tentunya baik juga..
(gak ada maksut tertentu buat bilang kata2 'TERKENAL' atau kata2 lain yang mungkin bikin anda tersindir) Impian playboy buat pacarin banyak cewek. (tapi gak pake hati, hh). Obsesi atlet buat jadi juara, keinginan anak SMA buat jadi anak design, jadi sutradara, jadi seniman.. Sampai keinginan bapak-bapak biar anaknya bisa jadi AURI (berdasarkan pride tertentu, dan hierarki yang tinggi). Semuanya saya rasa real dan bukan cuma obsesi. Memang kalau dibilang obsesi kedengarannya menyedihkan, tetapi ini bisa bikin hidup jadi lebih berarti (hahahah, kaya iklan rokok). Mungkin untuk hidup satu hari lagi kita juga butuh obsesi, cari uang untuk makan, dan tetap hidup, jalanin hari-hari sebaik mungkin biar engga celaka, berhenti merokok, cari unang tambahan, mikir mikir dan mikir, ujung-ujungnya untuk hidup terus di bumi. Jadi gak salah kalau hidup ini saya bilang sebuah obsesi, cita-cita, keinginan, impian, dan apalah itu orang anggapnya. Untuk capai semua itu butuh pengorbanan Apa gunanya sekolah kalo main-main, jadi disini sekolah ngorbanin mainan. mengerti?! Masih banyak lagi pengorbanan buat suatu cita-cita. Buat nulis ini aja, saya korbankan waktu tidur. Ide yan gberharga tidak bisa menunggu lama, begitu dia datang, tangan merespon dan menuangkannya, butuh waktu untuk bisa berpikir jernih, semuanya sebuah pengorbanan.

Tapi, dibalik itu semua ada sebuah seni. Seni dimana kita mengejar obsesi. Apapun itu.
Hidup merasakan embus waktu bertahun-tahun (yaelah, berasa umur udah kepala empat aja..) terkadang peluh mengiringi, kadang peluh itu juga yang membawa badan naik ke kasta berikutnya. Tersisip juga seni didalam lelah waktu pengejaran. Dia tersisip didalam musik, lukisan, ukiran, tarian, tulisan, bahasa, dan banyak aspek lainnya. Ia bisa indah, manis, cantik, tampan, elok, bahkan cepat.. Ok, kalau belum mengerti, saya akan beri contoh. Saya adalah pembalap mobil yang sangat-sangat berprestasi, saya mencintai bidang saya dengan sepenuh hati, bidang itu bertepatan dengan kecepatan, jadi dalam

*mungikn bisa lanjut nanti lagi, ada urusan yang lebih penting dari menulis,